Countdown

X Tutup

Titik Nol ASO di Jabar Jadi Momentum Wujudkan Siaran Sehat dan Berkualitas

Ketua KPID Jawa Barat Dr. Adiyana Slamet (kiri) didampingi anggota DPRD DR. Abdy Yuhana memberikan cinderamata kepada Sekda kab Sumedang Drs Herman Suryatman disela acara Literasi Digital dengan tema Titik 0 ASO: Literasi Untuk Digitalisasi Penyiaran Sehat Berkualitas SMTV Sumedang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Kamis (4/3/2022). Tim Komunikasi dan Edukasi Publik Mograsi TV Digital Kemkominfo/ Rian Irawan

Bandung, Tahap pertama matinya televisi analog (analog switch off/ASO) sesuai dengan Peraturan Menteri Kominfo Nomor 11 Tahun 2021, dimulai pada 30 April 2022. Di  Provinsi Jawa Barat,  ada 12 Kabupaten/Kota yaitu Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Kuningan, Kabupaten Majalengka, Kabupaten Sumedang, Kabupaten Garut, Kabupaten Tasik, Kota Tasik, Kota Banjar, Kabupaten Ciamis, Kabupaten Pangandaran dan Kabupaten Cianjur masuk tahap pertama. Tahap kedua mulai 25 Agustus 2022 meliputi 9 Kabupaten/Kota antara lain Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kota Cimahi, Kabupaten Bekasi, Kota Bekasi, Kabupaten Bogor, Kota Bogor dan Kota Depok dan terakhir 2 November 2022 meliputi 6 Kabupaten/Kota yaitu . Kabupaten Indramayu, Subang, Purwakarta, Karawang, Kabupaten Sukabumi dan Kota Sukabumi

Namun di Jawa Barat ada stasiun TV yang siap mengudara dengan sistem digital sebelum waktunya, yakni SMTV Sumedang. Stasiun televisi yang terkenal dengan tagline “Layar kacanya urang Sunda” ini secara resmi akan bersiaran digital mulai 6 Maret 2022 atau sekitar sebulan lebih dahulu sebelum batas akhir migrasi ke tv digital tahap pertama.

“TV –TV yang ada di Jawa Barat siap bermigrasi, ini sejalan dengan kajian Ilmiah kami dari 25 Mei 2021, kami bekerjasama dengan FIKOM UNPAD melakukan FGD dengan Asosiasi dan beberapa TV Lokal.  Hasilnya TV-TV lokal siap untuk bermigrasi dari analog ke Digital terrestrial, walaupun ada beberapa catatan, mahalnya sewa mux salah satunya,” kata Ketua KPID Jawa Barat Dr. Adiyana Slamet di Bandung Jumat (4/3/2022).

Selanjutnya Adiyana menjelaskan bahwa pihaknya juga sudah melakukan penelitian kesiapan TV lokal dalam Analog Switch Off dan sudah diekspose pada tanggal 23 November 2021. Penelitian yang bekerjasama dengan Program Studi Ilmu Komunikasi UNPAS ini memotret kesiapan TV Lokal di Jawa Barat dalam migrasi tersebut.

“Kajian –kajian ilmiah tersebut terbukti pada hari ini kesiapan tersebut ditandai dengan hari ini SMTV salah satu TV lokal di Jawa Barat siap bermigrasi. Bagi KPID Jawa Barat, momentum ini kita jadikan sebagai titik nol penyiaran digital. Kita masifkan literasi kepada masyarakat, dan selanjutnya kita akan sama-sama menunggu respon publik terhadap siaran digital ini,” kata Adiyana.

Adiyana mengatakan hal itu sehubungan dengan pencanangan titik nol Analog Switch Off di Sumedang pada 6 Maret mendatang. Diharapkan memberikan sambutan antara lain Kepala Diskominfo Jabar, Bupati Sumedang, serta materi penting dari Anggota DPRD dan Ketua Umum Asosiasi Siaran Televisi Digital Indonesia. 

Adiyana Slamet menambahkan bahwa peristiwa ini menjadi bukti bahwa tv lokal di Jawa Barat sudah siap bersiaran digital, sehingga perlu diikuti oleh tv lokal lainnya. Dengan migrasi ke digital ini diharapkan siaran tv digital makin bersih gambarnya, jernih suaranya dan canggih teknologinya.

Namun Komisioner Bidang Kelembagaan Syaefurrahman Ahmad menegaskan, soal migrasi tv analog ke digital bukan hanya sekadar lebih bagus gambar dan jernih suaranya. “Bagi KPID yang tidak kalah pentingnya adalah memastikan bahwa masyarakat mendapatkan informasi yang adil dan merata sesuai dengan hak asasi manusia. Makanya kita terus kawal jangan sampai di area blank spot ada masyarakat yang tidak mendapatkan siaran tv. Ini harus ada solusinya. Pemegang multipleksing dan pemerintah bertanggung jawab terhadap hal ini,” katanya.

Sementara itu Koordinator Kelembagaan KPID Jabar Roni Tabroni juga menjelaskan bahwa dengan adanya acara ‘Titik Nol ASO di Jabar” dengan mengambil momentum peristiwa ASO pertama di Jabar, siaran tv makin sehat dan berkualitas.

Sehat dapat dimaknai sebagai siaran yang kontennya memberikan edukasi, memberikan kesejukan, inspirasi dan mendorong masyarakat hidup dinamis dan harmonis. Konten demikian tentu saja sesuai dengan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS).

Siaran sehat dilihat dari manajemen juga dapat dimaknai sehat finansialnya dan organisasinya. Sedangkan secara teknologi, siaran berkualitas akan terlihat dari gambarnya yang lebih bagus, suaranya jernih dan canggih teknologinya.

Masih banyak masyarakat yang perlu mendapat pemahaman baru tentang apa urgensi tv digital, manfaat buat masyarakat dan apa kaitannya dengan bisnis baru dalam ekosistem penyiaran digital. Apa pula yang dapat dimainkan oleh masyarakat menghadapi era penyiaran digital ini.

“Ini merupakan kabar baik sekaligus tantangan baru, karena dengan digitalisasi penyiaran maka akan terjadi efisiensi frekuensi. Efisiensi frekuensi itu antara lain akan akan dipakai untuk memperkuat internet berkecepatan tinggi (5G), berdirinya tv digital baru sesuai dengan kebijakan pemerintah tentunya,’ kata Roni.

Ia menambahkan bahwa  sejalan dengan itu, ekosistem penyiaran digital akan berubah pula. Penyedia konten siaran digital akan menyesuaikan dengan pola acara dan tingkat persaingan siaran tv, rumah produksi, marketing digital dan cara orang menonton akan berbeda dengan sebelumnya.

Menurut catatan pada November 2021, perkembangan ekonomi digital Jawa Barat sangat menggembirakan. Kondisi tersebut, hal tersebut dikatakan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil pada September 2021 Ekonomi Digital di Jawa Barat tumbuh 40% dan mengalami kenaikan pada bulan Februari menjadi 60%. Tercatat dari 10 provinsi dengan pangsa pasar transaksi terbesar di Indonesia, baik pembelian maupun penjualan melalui marketplace, Jabar menempati posisi teratas. Diharapkan pada era tv digital ini kegiatan ekonomi digital makin baik lagi. (*).

Kontak

Ceritakan pengalamanmu tentang siaran televisi digital:

Telepon:

159 (call center)