Countdown

X Tutup

Televisi Digital Wujud Transformasi ke Arah Efektivitas Industri Penyiaran

Ilustrasi/Net

RMOLJAKARTA Migrasi televisi analog menuju digital merupakan salah satu wujud transformasi digital dalam ruang lingkup tata kelola penyiaran di Indonesia.

Demikian disampaikan Direktur Operasi Sumber Daya Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) Dwi Handoko saat menjadi narasumber dalam diskusi publik yang bertajuk “Kualitas Siaran di Era Siaran TV Digital”.

Dwi Handoko mengatakan, migrasi televisi analog menuju digital menjadi sebuah keniscayaan. Sebab, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah mencanangkan percepatan transformasi digital Indonesia yang ditegaskan dengan payung hukum terkait transformasi digital tertuang dalam Pasal 60A1 UU Cipta Kerja.
"Dasar hukum transformasi digital dibangun atas dasar kondisi penyiaran di Indonesia. Dari segi infrastruktur penyiaran, Indonesia sangat tertinggal dalam proses digitalisasi penyiaran secara global. 

Padahal berbagai negara telah mematikan TV analog," kata Dwi yang dikutip redaksi, Kamis (14/10).
Dwi menyebut International Telecommunication Union (ITU) dalam konferensi ITU 2006, telah memutuskan bahwa 119 negara ITU Region-1 telah menuntaskan ASO paling lambat 2015.

Demikian pula pada konferensi ITU 2007 dan 2012, pita spektrum frekuensi radio UHF (700 MHz) semula untuk televisi terestrial ditetapkan menjadi layanan mobile broadband. Sedangkan di tingkat regional terdapat Deklarasi Asean untuk menuntaskan ASO di 2020. 

"Dalam konteks kualitas siaran sendiri, terdapat beberapa aspek yang harus dicapai, yakni regulasi, produksi, konsumsi, dan teknologi. Migrasi televisi analog menuju digital merupakan bagian dari salah satu aspek guna menunjang kualitas," kata Dwi.

Sementara Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, Mulyo Hadi Purnomo mengingatkan bahwa diversifikasi konten berpotensi memunculkan konten-konten edukatif, kreatif, dan variatif. 
"Itu sangat bermanfaat bagi kelompok masyarakat yang memiliki keterbatasan akses tontonan atau televisi menjadi satu-satunya akses tontonan," kata Mulyo.

Dampak lainnya, kata Mulyo, yang ditimbulkan adalah pertumbuhan industri penyiaran, termasuk industri penyiaran lokal. 

Mulyo juga menyatakan salah satu tugas dari KPI dalam masa penerapan digitalisasi ini adalah memastikan eksistensi televisi lokal. 

"Kita meminta pada televisi lokal agar jangan menunggu. Karena kalau menunggu pasti akan tersisih. Harus dilihat kondisi ini, sebagai peluang bagi televisi lokal untuk hadir tak hanya di satu wilayah layanan," kata Mulyo.

Sedangkan Komisaris Trans Media, Ishadi SK berharap strategi dan kebijakan migrasi dari teknologi analog menuju digital di sektor pertelevisian dapat memberikan sumbangsih konkret terhadap kemajuan bangsa Indonesia.

Ishadi menyebutkan perkembangan cukup baik yang ada di Indonesia terjadi karena ada keseriusan untuk bersama-sama mengembangkan jaringan televisi di seluruh Indonesia secara lebih baik.

"Kombinasi antara pemerintah dengan pertelevisian swasta di masa depan akan sangat menentukan bagaimana lebih banyak masyarakat yang bisa mendapatkan akses yang lebih besar pada televisi," kata Ishadi.

Ia juga menyatakan untuk tidak melupakan keberadaan televisi-televisi lokal, yang dengan kesempatan yang ada sudah berhasil mendapatkan tempat, siaran, jaringan yang baik, akan juga memengaruhi masyarakat Indonesia secara keseluruhan.

"Kita juga melihat, di kota kecil dan desa-desa, mereka sudah bisa mengembangkan sendiri program-program ala mereka, yang sesuai dengan kebutuhan mereka," kata Ishadi.[]



Kontak

Ceritakan pengalamanmu tentang siaran televisi digital:

Telepon:

159 (call center)