Countdown

X Tutup

Ormas Keagamaan Jabar Siap Sukseskan TV Digital dan Jemput Peluang Bisnisnya

Fokus Group Discussion Kesiapan Masyarakat Jawa Barat Menyongsong TV Digital. dok pri

Bandung Barat, Cakrawala.co,-  Ormas keagamaan di Jawa Barat siap mensukseskan perkembangan teknologi digital di bidang penyiaran khususunya Analog Switch Off (ASO) atau matinya tv analog bermigrasi ke tv digital. Justru yang penting bagi mereka adalah bagaimana menjemput peluang bisnis dari ekosistem penyiaran digital yang akan tumbuh seiring tumbuhnya siaran digital.

Demikian antara lain catatan diskusi dalam forum group discussion (FGD) yang digelar Komisi Penyiaran daerah (KPID) Jawa Barat di Green Forest Parompong Bandung Barat Kamis (21/10/2021), yang dipandu Komisioner KPID Jabar Syaefurrahman Al-Banjary.

Diskusi menghadirkan pembicara Staf Khusus Menteri Kominfo Rosarita Niken Widiastuti, Sekjen ATVSI Gilang Iskandar, dan Ketua KPID Jabar Dr. Adiyana Slamet. Sejumlah ormas yang hadir adalah dari NU Jabar, Muhammadiyah, PA GMNI, Persis, Paguyuban Pasundan, ICMI,  Keuskupan Bandung, dan lain-lain. Hadir juga memberikan sambutan Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik Diskominfo Jabar Faiz Rahman.

Selanjutnya forum ini juga meminta pemerintah baik pusat maupun daerah untuk memastikan masyarakat mendapat pelatihan di bidang ekonomi digital, sehingga persoalan ASO terbukti bukan hanya masalah baiknya siaran secara teknologi, melainkan juga bagaimana menjemput peluang bisnis bagi ekonomi masyarakat.

Catatan lainnya adalah forum ini memastikan ASO bukan konspirasi di bidang industry teknologi digital dengan memanfaatkan ketidaktahuan masyarakat, melainkan sesuatu keniscayaan. Artinya teknologi digital di bidang penyiaran adalah pasti terjadi, terlebih sudah diumumkan oleh Presiden Joko Widodo bahwa 2 November 2022, semua TV di Indonesia harus sudah siaran digital. Tahap pertama 30 April 2022 di sejumlah daerah sudah mulai siaran digital.

Rosarita Niken menjelaskan ketuntungan atau dividen dari penggunaan frekuensi radio untuk siaran digital makin efisien. Yang biasanya satu kanal untuk satu tv, dengan sistem digital nantinya satu kanal dapat dipakai siaran sampai 12 chanel. Kelebihan frekuensi ini akan dipakai untuk internet berkecepatan tinggi, dan di sinilah akan lahir multiplier effect di antaranya akan ada 181 ribu kegiatan usaha baru, 232 ribu penambahan lapangan kerja baru, US$5,5 Miliar (Rp.77 T) Peningkatan Pendapatan  Negara dalam bentuk Pajak dan PNBP serta US$31.7 Milliar (Rp443.8 T) Peningkatan Kontribusi  pada PDB Nasional.

Menjawab pertanyaan soal efek lain munculnya televisi digital yang baru juga akan berakibat pada bagaimana mengawasi isi siaran, Ketua KPID Jabar Adiyana Slamey menjelaskan bahwa kolaborasi di bidang pengawasan musti ditingkatkan. Karena itu di setiap organisasi keagamaan diharapkan ada pojok relawan pemantau isi siaran, sehingga konsep pengawasan semesta dapat diwujudkan.

Mereka juga menghendaki agar bagaimanapun dengan kehadiran tv digital, isi siaran harus tetap pada misi utamanya yakni mengukuhkan keberagaman, kesatuan bangsa dan moralitas. Karenanya, tagline KPID Jabar “menjaga mata dan telinga masyarakat” perlu didukung bersama.

Sedangkan Gilang Iskandar memastikan kesiapan penyelenggara siaran  sudah siap di atas 60-70 persen. Di Indonesia terdapat 308 wilayah layanan dan dari tujuh penyelenggara multipleksing di 219 wilayah sudah on air. Artinya sudah 70 persen bersiaran digital. Gilang juga lebih setuju bukan istilah ASO yang digaungkan melainkan DSO atau digital swich on, untuk memastikan bahwa lembaga penyiaran memang siap on digital.

Gilang mengakui bahwa penonton televisi makin turun, namun faktanya 90 persen pemasang iklan termasuk pelapak di dunia maya beriklan di televisi. Artinya televisi masih dipandang sebagai media yang sangat berpengaruh dan dipercaya masyarakat. (*).


Kontak

Ceritakan pengalamanmu tentang siaran televisi digital:

Telepon:

159 (call center)