Countdown

X Tutup

Nusa Tenggara Barat Bersiap Migrasi ke TV Digital

Wisatawan menonton atraksi Presean di Desa Wisata Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Praya, Lombok Tengah, NTB, Kamis (14/10/2021). (FOTO: ANTARA/Ahmad Subaidi)

JAKARTA, TIMEXKUPANG.com-Indonesia sedang menata infrastruktur digital. Langkah awal penataan salah satunya dengan melakukan peralihan sistem penyiaran TV Analog ke TV Digital atau yang disebut Analog Switch Off (ASO).

Gambaran penting migrasi TV digital terlihat dari berbagai manfaat yang didapatkan. TV Digital meningkatkan kualitas tayangan menjadi lebih bersih gambarnya, jernih suaranya, dan canggih teknologinya, serta beragam programnya. Semua manfaat itu gratis. Masyarakat tidak perlu membayar bulanan atau membeli pulsa untuk menikmatinya karena bukan streaming internet. 

Berbagai pemangku kepentingan bidang penyiaran juga merasakan manfaatnya. Hal itu disampaikan Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Informatika, Rosarita Niken Widiastuti dalam webinar Nusa Tenggara Barat (NTB) Siap Analog Switch Off (ASO) , Kamis, (18/11/2021). Manfaatnya yaitu efisiensi penggunaan spektrum frekuensi, efisiensi infrastruktur industri penyiaran, peningkatan kualitas penyiaran, mempertahankan diversity of ownership, mendukung diversity of content dan menumbuhkan industri konten.

Stafsus Niken Widiastuti menjelaskan ASO adalah program bersama dan perlu kerja bersama melaksanakannya. “ASO setidaknya melibatkan 697 Lembaga Penyiaran dan 44,5 juta rumah tangga. Tentunya semua yang terlibat tersebut secara bertahap perlu beralih ke siaran TV Digital,” katanya.

Hal senada disampaikan juga Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat, Sitti Rohmi Djalilah. Sitti menyatakan rasa optimisnya dengan kehadiran siaran TV Digital di NTB. “Masyarakat NTB intinya siap untuk ASO. Tidak ada kata tidak siap untuk sesuatu yang menjadi lebih baik,” demikian pernyataan Wagub NTB.
Selanjutnya, Wagub menekankan pentingnya koordinasi semua pihak agar proses migrasi berjalan dengan lancar. Satu hal jadi perhatiannya, yaitu pentingnya sosialisasi. 

“Ini (sosialisasi ke masyarakat secara meluas di NTB) pekerjaan rumah kita semua. Bagaimana dari sekarang sampai dengan bulan April 2022 (tahap pertama ASO) itu, seluruh masyarakat NTB paham tentang ASO ini. Hasilnya, tidak ada kebingungan, semua optimis, semua menyambut baik. karena ASO ini sangat baik sekali keuntungannya,” kata Wagub. 

Di kesempatan sama, Ketua KPID Nusa Tenggara Barat Ajeng Rosalinda Motimori menyatakan kesiapan KPID NTB memperlancar jalannya program. “Kita tidak bisa mundur lagi, tidak bisa tidak menerima ASO. Ini menjadi tanggungjawab kami di KPID untuk menyampaikan dan memberi informasi baik terhadap LP lokal atau masyarakat yang terdampak ASO ini,” kata Ajeng.

KPID NTB menyatakan siap mendukung sosialisasi ke masyarakat. “Kedepannya menyiapkan langkah untuk langsung menyentuh masyarakat. Kami akan konsen ke desa-desa untuk memberikan sosialisasi sampai masuk di tahapan ASO,” papar Ajeng.

Di sisi yang agak berbeda, Dosen Universitas Mataram Agus Purbathin menyoroti tentang berbagai peluang sekaligus tantangan lembaga penyiaran lokal. “Peluang digitalisasi cukup besar misalnya penerimaan siaran yang lebih berkualitas, dan peluang mengembangkan diri. Bagaimana dengan digitalisasi ini, televisi semakin kreatif untuk membuat konten. Dengan catatan,konten itu harus dekat dengan publiknya, karena mereka penonton televisi lokal,” kata Agus.

Menurut Agus, penting juga menjangkau anak-anak digital, milenial kembali menonton televisi. “Kita tahu televisi makin ditinggalkan, dengan kreatifitas, lembaga penyiaran bisa makin menemukan jati dirinya di era seperti ini,” katanya. 

Dukungan dan sambutan positif dalam webinar tersebut memang penting memperlancar laju migrasi ke siaran TV Digital di NTB. Tidak berselang lama, NTB sudah memasuki siaran TV Digital, tepatnya pada tahap pertama ASO (30 April 2022), beberapa kabupaten mengalami pengakhiran siaran TV Analog.
NTB ada dua tahap ASO, yaitu tahap pertama dan tahap ketiga (2 November 2022). Dari lima wilayah layanan, ada dua wilayah layanan yang terdampak penghentian siaran TV Analog. Memang dua wilayah ini yang selama ini menangkap sinyal TV Analog.

Pada tahap pertama, daerah terdampak Nusa Tenggara Barat – 1 yaitu, Kabupaten Lombok Barat, Kabupaten Lombok Tengah, Kabupaten Lombok Timur, Kota Mataram. Pada tahap ketiga, daerah terdampaknya, Nusa Tenggara Barat – 5, meliputi Kabupaten Dompu, Kabupaten Bima, dan Kota Bima.
Informasi penting lainnya, yaitu menonton siaran TV Digital itu gratis. TV Digital bukan streaming internet jadi tidak perlu kuota internet, bukan televisi berlangganan. TV Digital menggunakan antena UHF (antena biasa yang selama ini sudah digunakan).

Untuk melakukan pengecekan keberadaan sinyal digital, bisa menggunakan aplikasi sinyaltvdigital (tersedia android/ios). Lewat aplikasi itu ada informasi kekuatan sinyal, jumlah multipleksing dan jumlah stasiun/program yang ada dan ditangkap. Dari informasi yang ada, dapat mengarahkan antena rumah ke lokasi pemancar untuk mendapatkan tayangan siaran tv digital lebih optimal.

Satu langkah lagi perlu dilakukan, masyarakat bisa melakukan pengecekan televisi di rumah masing-masing. Jika TV di rumah sudah ada tuner standar DVBT2 di dalamnya, cukup melakukan scanning ulang saja. Bila pesawat televisi masih analog, perlu tambahan Set Top Box (STB).

Bagi masyarakat mampu, bisa membeli, memasang STB, dan mulai bermigrasi ke TV Digital sekarang. Dengan bermigrasi menikmati tayangan bersih gambarnya, jernih suaranya, canggih teknologinya. (Tim Komunikasi dan Edukasi Publik Migrasi TV Digital Kemenkominfo) 


Kontak

Ceritakan pengalamanmu tentang siaran televisi digital:

Telepon:

159 (call center)