Countdown

X Tutup

Migrasi ke Siaran TV Digital Awali Transformasi Digital Indonesia

Ilustrasi: Warga menyaksikan siaran televisi digital di Jakarta, 17 Agustus 2021. Tim Komunikasi Publik dan Edukasi Migrasi TV Digital/Wienda Parwitasari

Jakarta, kalimantanpost.com Ikhtiar Indonesia menjadi negara kuat di kancah ekonomi digital dunia selayaknya menjadi niat dan tujuan seluruh warga bangsa. Babak economic digital sudah mulai. Setiap negara sudah menata diri. Indonesia punya kesempatan besar mengawali proses transformasi digital di 2021. Langkah awal nan penting itu bernama Analog Switch Off (ASO) atau migrasi siaran TV Analog ke siaran TV Digital. 

Staf Ahli Menkominfo RI, Prof. Dr. H.    Henry    Subiakto, SH,    MA dalam sebuah webinar bertema “Siaran Digital Dorong Kemajuan Bangsa”  pada Rabu (1/12) berpendapat bahwa migrasi siaran ke TV Digital itu bentuk penataan frekuensi. “Kebijakan migrasi ke siaran TV Digital merupakan perwujudan dari Kemkominfo dalam melakukan transformasi digital. Penataan frekuensi sangat penting dilakukan. Mengingat tanpa adanya penataan frekuensi, akses internet tidak bisa berjalan maksimal. Teknologi 5G tidak akan tersedia tanpa penataan frekuensi.”

Selama ini, frekuensi pita 700 Mhz terpakai hampir seluruhnya oleh penyiaran TV Analog. Padahal pita tersebut kini jadi sarana penting dalam pengembangan layanan internet pita lebar, dalam hal ini teknologi 5G. Dengan adanya migrasi ini muncullah penghematan di penggunaan pita 700 Mhz. Tersedia “slot” atau ruang yang bisa untuk pengembangan layanan internet. Slot atau ruang itu disebut digital dividend

Menurut Boston Consulting Group, manfaat ekonomi digital dividend itu punya daya dorong besar dari sisi ekonomi. Dalam studinya di tahun 2020, diperkirakan dalam lima tahun ke depan efek berganda digital dividend pada Indonesia adalah adanya 181 ribu penambahan kegiatan usaha baru, 232 ribu penambahan lapangan pekerjaan baru, Rp 77 T (tujuh puluh tujuh triliun rupiah) peningkatan pendapatan negara dalam bentuk pajak dan PNBP serta Rp 443,8 T (empat ratus empat puluh tiga koma delapan triliun rupiah) peningkatan kontribusi pada PDB nasional.

Dari sisi tersebut di atas, migrasi siaran TV Analog ke siaran TV Digital benar-benar langkah strategis dan mendasar dalam mendukung transformasi digital negara Indonesia. ASO memberikan lebih lebih dari bersih gambarnya, jernih suaranya, dan canggih teknologinya, yaitu kesempatan tampil di pentas ekonomi digital dunia. 

Terkait perubahan teknologi dari siaran TV Analog ke siaran TV Digital, Guru Besar Komunikasi FPEB Universitas Pendidikan Indonesia, Prof. Dr. H. Suwatno, M.Si., di forum itu memaparkan bahwa perubahan di industri penyiaran TV adalah lumrah. “Industri penyiaran TV sudah banyak mengalami perubahan seiring dengan perkembangan teknologi. Hal ini merupakan sebuah keniscayaan, karena perubahan tersebut tidak hanya terjadi pada industri penyiaran TV,” katanya. 

Dengan tegas Prof. Suwatno menekankan saat ini semua pihak harus siap dengan peralihan ke teknologi digital. “Jika terus-menerus tertunda Indonesia akan semakin tertinggal dari negara-negara lain. Di tingkat ASEAN saja, negara-negara ASEAN sejatinya telah sepakat untuk menyelesaikan ASO di tahun 2020. Brunei Darussalam sudah menerapkan ASO di 2017 untuk wilayah perbatasannya demi menghindarkan interferensi. Disusul Singapura dan Malaysia 2019, di 2020 Vietnam, Thailand dan Myanmar telah menyelesaikan ASO”.

Masyarakat juga perlu menyesuaikan diri dengan perubahan teknologi tersebut. Setiap keluarga yang selama ini adalah penonton siaran TV Analog punya peran dalam mendukung program penting ini. Caranya mulai beranjak dan bermigrasi ke siaran TV Digital. Mulai dari sekarang periksa pesawat televisi di rumah masing-masing.

 Jika TV di rumah sudah ada tuner standar DVB T2 di dalamnya, berarti cukup melakukan scanning ulang saja. Bila pesawat televisi masih analog, perlu tambahan Set Top Box (STB). Bagi masyarakat yang mampu bisa membeli, memasang STB, bermigrasi ke TV Digital sekarang dan menikmati beragam manfaatnya. Bersih gambarnya, jernih suaranya, canggih teknologinya. Gratis menontonnya, tidak perlu biaya langganan atau pulsa. (Tim Komunikasi dan Edukasi Publik Migrasi TV Digital Kemenkominfo)


Kontak

Ceritakan pengalamanmu tentang siaran televisi digital:

Telepon:

159 (call center)