Countdown

X Tutup

Kominfo minta masyarakat pilih "set top box" bersertifikat

webinar "Set Top Box : Tak Kenal, Maka Tak Digital". IST

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Wakil Ketua Bidang Regulasi Pemerintah Gabungan Pengusaha Elektronik (Gabel) Joegianto menyatakan salut kepada Aceh yang akan menjadi daerah pertama beralih ke TV Digital pada 30 April 2022.

Itu disampaikan Joegianto saat menjadi pembicara dalam Webinar yang bertajuk: "Set Top Box: Tak Kenal, Maka Tak Digital' yang disiarkan secara live on di channel YouTube Kominfo dan TV partner, Jumat  (18/2/2022).

"Provinsi Aceh akan menjadi yang pertama beralih ke digital," katanya. Untuk di Aceh, siaran analog akan dihentikan pada 30 April 2022 meliputi untuk layanan;
Aceh 1; kabupaten Aceh besar dan kota Banda Aceh.
Aceh 2 : Kota Sabang.
Aceh 4 - Kabupaten Pidie, Kabupaten Bireuen dan Kabupaten Pidie Jaya
Aceh 7 : kabupaten Aceh Utara, dan Kota Lhokseumawe.

Seperti diketahui, siaran TV analog di Indonesia akan  dihentikan secara bertahap:

Tahap 1 : Mulai 30 April 2022 
Tahap 2 : 25 Agustus 2022
Tahap 3 : 2 November 2022.
Direktur Standardisasi Perangkat Pos dan Informatika, Ditjen SDPPI, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) Mulyadi dalam webinar itu mengatakan, pada 2022, Indonesia telah masuk ke tahap siaran digital. Lalu apa itu teknologi digital? Kenapa kita harus berpindah. 

"Kalau kita lihat dan cermati apa yang terjadi dalam migrasi digital. Sebenarnya yang berubah itu adalah teknologi pemancarannya. Pemancaran dari suatu stasiun televisi yang selama ini sinyalnya dipancarkan secara analog, kemudian pada migrasi digital ini pemancar analog itu diganti menjadi pemancar digital. Sehingga yang dipancarkan adalah sinyal digital," jelas Mulyadi. 

Mulyadi menyatakan, untuk menerima sinyal digital yang lebih canggih ini maka dibutuhkan suatu penerima yang dapat menerima sinyal digital itu. Adapun TV yang dimiliki oleh sebagian besar masyarakat saat ini masih banyak yang tergolong televisi analog.

"Sehingga ketika sinyal yang dipancarkan itu sudah berubah menjadi digital, maka pemancar penerima televisi di rumah itu tidak bisa lagi menerima siaran televisinya," ungkap Mulyadi. 

Oleh karena itu, lanjutnya diperlukan suatu perangkat khusus untuk memungkinkan sinyal digital dari suatu pemancaran itu dapat diterima di televisi kita dengan baik yang lebih bersih, jernih, dan canggih. 

Kemudian apakah dengan TV digital ini pemirsa TV di rumah harus mengeluarkan biaya tambahan?  
"Tidak. Dalam penyiaran televisi digital ini tidak ada, tidak diperlukan internet. Tidak diperlukan biaya langganan dan tidak diperlukan pulsa atau kuota untuk menerimanya. Cukup penerima televisi yang ready digital sudah bisa kita menerima siaran televisi digital tersebut," tuturnya.

Kemudian hal lainnya jelas Mulyadi, yang diikutkan dalam penyiaran digital ini adalah suatu fitur baru yang disebut Early Warning System (EWS). Pemerintah dapat memberikan suatu peringatan dini apabila terjadi suatu bencana. Terlebih Indonesia termasuk dalam ring of fire atau cincin api pasifik sehingga EWS ini sangat penting buat masyarakat. 

"Jadi kita memiliki suatu tools tambahan lagi untuk mengetahui, untuk menyebarkan, suatu peringatan bencana pada masyarakat. Kalau sekarang ini didistribusikan melalui SMS atau pesan dari sosial media, sekarang dengan adanya TV digital maka peringatan itu bisa disampaikan melalui TV," ujar Mulyadi. 
Jadi ketika orang menonton TV di rumah masing-masing peringatan itu bisa muncul di layar. Bisa diketahui apakah bencananya itu kategori berbahaya, harus melakukan tindakan apapun, maka semua bisa diketahui lebih dini dan real-time. 

Dengan begitu mitigasi atau antisipasi terhadap suatu bencana itu bisa dilakukan sedini mungkin. Sehingga korban yang mungkin terjadi akibat bencana itu bisa diminimalisir. "Itulah salah satu keunggulan yang bisa dinikmati kalau pindah ke TV digital," ucapnya. 

Sementara itu, Komisioner KPI Pusat, Mohamad Reza dalam webinar tersebut menjelaskan tentang digitalisasi penyiaran, dinamika dan pengawasan.

Reza menegaskan peran KPI adalah salah satunya pengawasan konten. Seperti memelihara tatanan informasi nasional yang adil, merata, dan seimbang. Selain itu menampung, meneliti, dan menindaklanjuti aduan, sanggahan, serta kritik dan apresiasi masyarakat terhadap penyelenggaraan penyiaran. Disamping itu melakukan pengembangan SDM yang menjamur dengan standar profesionalitas di bidang penyiaran 

"Itu menjadi sesuatu hal  yang menjadi penting. Ketika pelaksanaan penyiaran  digital ini mau dilaksanakan. Tentu saja yang tadinya 20 TV di suatu daerah misalnya, ini nanti tentu saja tidak akan 20 lagi. Namun akan banyak TV digital. Sehingga dengan banyaknya konten, kami prediksi itu tumbuh hampir 50 persen, dari total jumlah lembaga penyiaran swasta TV bisa tumbuh lebih dari 50 persen. Itu KPI mempunyai peran untuk melakukan pengawasan dengan perilaku penyiaran," jelasnya. 
Reza menambahkan, di penyiaran digital, tentu ada dampak positif dan negatif. "Saya harus fair bilang ada positif dan negatif," ungkapnya.

Reza mengungkan dampak positifnya, akan lebih menarik perhatian, gambar jernih, suara lebih bersih, interaktif, teknologi EWS. Selain itu yang penting adalah proteksi tayangan untuk anak agar terlindungi dari konten-konten yang tidak sesuai untuk konsumsi anak-anak dan bisa diakses secara gratis.
"Negatifnya, literasi penggunaan STB hanya memberi informasi ada dan tidak ada siaran. Lalu simulcast dan power belum maksimal. Kemudian remote TV  jadi 2," ujarnya.(*)

Penulis: Fikar W Eda | Editor: Taufik Hidayat 

https://aceh.tribunnews.com/2022/02/20/aceh-provinsi-pertama-yang-beralih-ke-tv-digital

Kontak

Ceritakan pengalamanmu tentang siaran televisi digital:

Telepon:

159 (call center)