Countdown

X Tutup

Digitalisasi Hemat Operasional Penyiaran Hingga 40 Persen

Ilustrasi transmisi MUX, di stasiun transmisi Bukit Bakung, Bali, Kamis, 14 Oktober 2021. Migrasi dari siaran TV Analog ke siaran TV Digital menciptakan berbagai penghematan. Tim Komunikasi Publik dan Edukasi Migrasi TV Digital/Wienda Parwitasari

Jakarta, kalimantanpost.comMigrasi dari siaran TV Terestrial Analog ke siaran TV Terestrial Digital menciptakan berbagai penghematan. Pertama, hemat penggunaan spektrum frekuensi radio. Kedua, efisiensi operasional penyiaran.

Hematnya penggunaan frekuensi ini terlihat dari jumlah program yang bisa disebarluaskan dalam sistem penyiaran digital. Pada sistem siaran analog, satu frekuensi carrier hanya bisa membawa satu program. Sedangkan sistem siaran digital, satu frekuensi carrier bisa membawa lebih banyak program.

Hal itu dipaparkan Analis Kebijakan Ahli Madya Koordinator Layanan Televisi Direktorat Penyiaran, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Sukamto dalam talk show daring bertajuk “Jambi Siap Analog Switch Off (ASO)”. Kamis, (04/10/2021).

“Untuk frekuensi carrier yang sama, di sistem penyiaran digital, bisa mendapatkan jumlah siaran yang lebih banyak. Lebih kurang 12 program,” kata Sukamto.

Dijelaskan lebih lanjut oleh Sukamto, siaran TV digital menggunakan frekuensi yang lebih sedikit sehingga sebagian besar frekuensi 700 MHz bisa digunakan untuk digital dividend. Tercatat ada 697 lembaga penyiaran terestrial analog di Indonesia.

Dengan sistem penyiaran TV Digital, lembaga penyiaran tersebut semuanya tetap bisa bersiaran sekalipun ruang spektrum frekuensi yang digunakan jauh lebih sedikit. Bahkan dengan ruang spektrum frekuensi yang lebih kecil, potensi penambahan program siaran masih terbuka. Tumbuhnya industri konten memang jadi salah satu tujuan migrasi ke TV Digital.

“Hadirnya sistem penyiaran TV Digital membuka ruang lebar peluang industri kreatif dan pembuat konten untuk memenuhinya. Dengan demikian, efisien penggunaan spektrum frekuensinya dan tayangan justru bertambah,” katanya.

TV Digital Irit Biaya Penyiaran

Sistem penyiaran TV Digital irit biaya operasional penyiaran, bahkan bisa efisien atau hemat hingga 40 persen. Hal itu disampaikan oleh Direktur Program dan Jaringan Jawa Pos Multimedia, Emar Pasha Amangku pada webinar bertajuk “Sosialisasi Pelaksanaan Digitalisasi Penyiaran dan Penghentian Siaran TV Analog Secara Bertahap”. Rabu, (23/6/2021).

“Dari segi bisnis, implikasi biaya operasional dari analog ke digital lebih terasa dari sisi biaya penyiaran. Komparasi biaya terestrial analog ke terestrial digital bisa lebih efisien atau hemat hingga 40 persen,” kata Emar.

Ada satu tambahan lagi terkait penghematan, yaitu hemat investment cost. Salah satu hambatan berkembangnya kepemilikan dalam industri penyiaran adalah mahalnya investasi, terutama terkait investasi pada perangkat elektronik yang harus diimpor. Dengan TV digital, kita membantu mengurangi defisit neraca perdagangan bidang teknologi informasi dan komunikasi.

Melihat begitu banyaknya manfaat beralih ke siaran TV Digital, Kementerian Kominfo mengajak semua pihak berpartisipasi. Ada satu langkah mudah yang bisa lakukan masyarakat, yaitu melakukan pengecekan televisi di rumah masing-masing. Jika TV di rumah sudah ada tuner standar DVB T2 di dalamnya, berarti cukup melakukan scanning ulang saja. Bila pesawat televisi masih analog, perlu tambahan Set Top Box (STB).

Bagi masyarakat yang mampu bisa membeli, memasang STB, bermigrasi ke TV Digital sekarang dan menikmati beragam manfaatnya. Bersih gambarnya, jernih suaranya, canggih teknologinya. Gratis menontonnya, tidak perlu biaya langganan atau pulsa. (Tim Komunikasi dan Edukasi Publik Migrasi TV Digital Kemenkominfo)


Kontak

Ceritakan pengalamanmu tentang siaran televisi digital:

Telepon:

159 (call center)